Umar Bonte: Lebih Baik Kalah Tapi Terhormat, Dari Pada Bangga Jadi Pemenang Tapi Zalim/Curang

0
2415
Umar Bonte: Lebih Baik Kalah Tapi Terhormat, Dari Pada Bangga Jadi Pemenang Tapi Zalim/Curang
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya Provinsi Sultra, La Ode Umar Bonte, S.Si., SH., MM (kiri). (Foto: Ist)

MUNA, SULTRA — Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Berkarya Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), La Ode Umar Bonte, S.Si., SH., MM mengingatkan kadernya dalam suatu kontestasi politik atau Pilkada untuk tidak menggunakan cara-cara yang kotor demi meraih sebuah kemenangan.

Menurutnya, lebih baik memilih menjadi pihak yang kalah tapi terhormat dari pada bangga menjadi pemenang namun diraih dengan cara curang, itu zalim namanya.

“Lebih baik kalah terhormat dari pada menang dengan cara kotor,” ungkap pria yang akrab disapa UB ini via selulernya pada awak media ini, Jumat (18/12/2020).

Kata dia, apalah artinya jadi pemenang namun diraih dengan cara mengintimidasi, hati nurani rakyat dikekang, suara digelembungkan, DPT sah melonjak 10 ribu.

Ditambah lagi yang sudah meninggal bisa memilih, anak dibawa umur pun dipaksa menyalurkan hak pilihnya. Menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.

Praktisi Hukum di Sultra ini pun meminta kepada pemenang Pilkada Muna 9 Desember kemarin, agar jangan terlalu bangga dengan angka kemenangan yang telah diraih.

“Secara angka-angka boleh menang, namun secara moral tidak menang dan tidak bisa menggait hati rakyat. Di hati rakyat pemenangnya bukanlah Anda,” katanya.

UB mengatakan, jika ingin menang maka milikilah sikap sebagai pemenang. Sebab yang membedakan pemenang sejati dan pecundang hanya satu “Pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, sedang pecundang lebih nyaman tetap ada diposisi jatuh, karena seorang pecundang tak tahu apa yang akan dilakukannya bila ia kalah”.

“Kontestasi Pilkada Muna adalah kontestasi politik yang dihelat lima tahun sekali yang memastikan kita harus memenangkan pertarungan dengan bermartabat dan benar. Bukan dengan zalim. Kecurangan-kecurangan terstruktur walaupun disembunyikan dengan rapi akan terkuak dengan sendirinya. Karena sejatinya suatu kebenaran akan menemukan jalannya sendiri,” ucapnya.

UB pun mencontohkan kisah dalam cerita dongeng, ada seorang gembel bernama Hambali yang tak punya pengaruh apa-apa dan bukan siapa-siapa dalam masyarakat, tetapi karena pengaruh sang paman ia diangkat menjadi senopati.

Namun gembel tersebut menghalalkan segala cara, berlaku zalim dan curang hanya karena ingin menjadi raja. Lantaran kezalimannya, akhirnya si gembel tersebut terhunus pedangnya sendiri.

“Kita bisa mengambil hikmah dari cerita ini,” imbuhnya.

UB menegaskan Pilkada Muna belum berakhir. Setiap Pilkada selalu berakhir dengan zonder konflik, kepada masyarakat ia berpesan untuk bersabar. Sebab, masih ada proses hukum yang akan ditempuh.

“Jadi, yang menang karena curang jangan dulu sombong dan berbangga diri. Saat terbaik untuk membuktikan bahwa kita adalah pemenang, yaitu saat ketika kita tampak kalah,” tutupnya.(*)

Kontributor: Ros

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here