Trofeo LDM U40+, Pertandingan Bergengsi Tanpa Nomor 10

0
187

MUNA BARAT, SULTRA — Masyarakat Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra) seakan disuguhkan pertandingan nostalgia, meski tak lagi selincah dulu, namun nama-nama besar pemain era 90-an kembali bertanding dalam gelaran Trofeo LDM U40+ di Lapangan Sepak Bola Mekar Jaya, Sabtu (17 /10/2020).

Dua puluh tahun silam, publik Mubar tentunya tidak akan pernah lupa kehebatan anak-anak Pulau Maginti dalam olahraga S Sepak Bola, atau kekompakan anak-anak Mekar Jaya dalam bermain sebagai tim. Hingga hari ini nama-nama seperti Bunta, Nasir K, Muin, Aco, Teguh, Kateni jelas masih lekat dalam ingatan warga Mubar yang berusia 40 tahunan.

Para legenda tersebut kini terbagi dalam lima tim, yakni Maginti All Star, Tikep All Star, Tiworo Selatan All Star, Tiworo Utara All Star dan Tiworo Tengah All Star. Penonton yang memadati Lapangan Sepak Bola Mekar Jaya adalah bukti sahih bahwa turnamen usia 40 tahunan ini digemari oleh masyarakat.

Memasuki hari kedua turnamen, pertandingan semakin seru. Terjadi beberapa kejutan semisal Maginti All Star yang diunggulkan menjadi kampiun justru harus menerima pil pahit setelah ditaklukkan Tim Tiworo Selatan All Star 1-2. Lalu tim kuat lainnya Tiworo Utara All Star justru dikalahkan 2-4 oleh Tiworo Tengah All Star.

Namun ada yang unik dalam Trofeo yang mempertemukan lima tim legenda ini. Semua tim yang bertanding, tidak satupun pemain mengenakan nomor punggung 10. Beberapa pemain yang akrab dengan nomor punggung 10 justru mengenakan nomor punggung lain, semisal Teguh memilih nomor 11, Bunta (15), LM Ridwan (99), bahkan La Ode Songko Panatagama (LSP) sekalipun pemilik LDM yang biasanya mengenakan nomor punggung 10, justru memilih nomor 81.

Ketua Panitia turnamen, LM Awaludin kepada awak media menuturkan jika panitia memberikan aturan khusus, yakni tidak boleh mengenakan nomor punggung 10 sebagai bentuk penghargaan kepada Rektor UHO Prof. Muh. Zamrun.

“Benar kami minta tidak ada pemain yang mengenakan nomor punggung 10. Karena ini turnamen yang dilaksanakan oleh LDM, dimana Bapak Rektor UHO memiliki jasa besar dalam memberikan fasilitas kepada anak-anak LDM. Maka kami membalas kebaikan beliau dengan tidak mengenakan jersey nomor 10 karena itu merupakan nomor punggung beliau,” ujarnya, Sabtu (17/10/2020).

Pengakuan yang sama dituturkan oleh Manajer Tiworo Tengah All Star, La Badi. Menurut Kepsek SMA 1 Tiworo Tengah ini, dalam tim TWT tidak menggunakan jersey nomor 10 karena menghormati Rektor UHO yang juga mengenakan nomor 10.

“Memang dalam technical meeting sudah disampaikan oleh panitia tidak boleh ada nomor 10 karena itu merupakan nomor punggung Pak Rektor UHO. Tapi ada hal lain yang lebih penting yakni hari ini symbol orang cerdas Muna Barat itu Pak Rektor UHO, tentu kita harus menjaga marwah beliau, termasuk dalam urusan nomor punggung,” demikian La Badi memberikan penjelasan.

Salah seorang pemain yang biasanya identik dengan nomor 10 adalah La Ode Safari. Mantan pemain jebolan Pra PON Sultra ini mengaku dirinya memilih nomor 9 setelah panitia melarang pemain menggunakan nomor 10. Kepala Desa (Kades) Mekar Jaya ini menerima ketentuan itu, sambil bercanda Safari mengungkapkan jika anaknya kuliah di UHO maka dirinya wajib menghormati Rektor UHO.

“Saya pakai nomor 9, karena nomor 10 dilarang. Tidak masalah karena anak saya kuliah di UHO, semoga suatu hari saya bertemu Bapak Rektor, nanti saya mau bicara sama beliau bahwa saya loyal menjaga nomor punggung beliau,” pungkasnya.(*)

Kontributor: Nirwan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here