Pandemi, Salah Satu Pemicu Pernikahan Usia Dini

0
156
Pandemi, Salah Satu Pemicu Pernikahan Usia Dini
Pengurus Daerah Wanita Islam Jateng. (Fajar/FB.Net)

SOLO, JATENG — Ada dampak lain dari pandemi Covid-19 yang terjadi dalam delapan bulan belakangan ini, yakni banyaknya pernikahan usia dini. Celakanya, pernikahan usia dini itu banyak didaftarkan lantaran perempuan hamil duluan.

Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah (Jateng) mencatat, selama 2019 pernikahan usia dini tercatat 2.046 kasus dan hingga semester pertama 2020 tercatat 4.618, lebih dari dua kali lipat peningkatannya.

Hal itu terungkap dalam Webinar yang digelar Pengurus Daerah Wanita Islam Jateng bertajuk ‘Dampak Pernikahan Dini di Masa Pandemi Covid-19’, pada Sabtu (24/10/2020), di Solo.

Webinar yang dibuka Ketua Badan Koordinasi Organisasi Wanita (BKOW) Jateng, Nawal Arafah Yasin itu menghadirkan Ketua Pengurus Pusat Wanita Islam Marfuah Mustofa, Ketua Pengurus Wilayah Wanita Islam Jateng Sri Handayani, Kabid Urais dan Binsyar Kanwil Kementerian Agama Jateng M Arifin dan Kepala Klinik Griya Husada Karanganyar dr. Hadiasri sebagai pembicara.

Selain pandemi, pernikahan usia dini juga disebabkan perubahan ketentuan baru usia perkawinan yang diatur dalam UU No. 16/2019, perubahan atas UU No. 1/1974 Tentang Perkawinan.

Dimana dalam UU No. 1/1974, batas usia menikah bagi calon pengantin perempuan adalah 16 tahun. Sedang menurut UU No. 16/2019 menjadi 19 tahun, baik calon pengantin pria atau perempuan.

Ketua BKOW Jateng, Nawal Arafah Yasin mengatakan, pernikahan dini yang terjadi, diantaranya dipicu faktor keluarga, pergaulan bebas remaja serta perkembangan teknologi, terutama media sosial.

“Ini menjadi tanggung jawab kita semua. Tokoh agama, keluarga dan masyarakat harus menjadi benteng utama untuk menghindari pergaulan bebas,” ujarnya.

Sebagai salah satu organisasi, kata dia, Wanita Islam harus lebih pro aktif melakukan pencerahan untuk menghindari terjadinya perkawinan dini.

“Pernikahan dini perlu dicegah dan dihindari. Jangan sampai kita nantinya meninggalkan generasi yang lemah. Untuk itu, Wanita Islam harus pro aktif memberi pencerahan kepada masyarakat,” kata istri Wakil Gubernur Jateng itu.

Hal senada dikatakan Ketua PP Wanita Islam Marfuah Mustofa. Dalam sambutannya mengatakan secara faktual di masa pandemi terjadi peningkatan jumlah pernikahan usai dini.

“Dalam rentang waktu yang sama antara Januari hingga Agustus 2019 dan 2020 di Ponorogo peningkatan jumlah pernikahan usia dini dari 78 pasangan menjadi 165 pasangan,” katanya memberi contoh.

Sejak Covid-19 menjadi pandemi, pada Maret 2020 hingga sekarang, lanjut dia, ada perubahan rutinitas di semua aspek kehidupan pribadi, lingkungan dan bernegara. Hampir semua aktifitas dijalankan dari rumah dengan cara online. Kegiatan pembelajaran jarak jauh, pengelolaan waktu siswa tidak seperti saat pembelajaran offline.

Ada anak tanpa fasilitas hape dan internet, menghabiskan waktu dengan cara sendiri, nyaris tanpa pengawasan orang tua yang sudah sibuk sendiri mengatasi ekonomi di masa pandemi. Alasan kerja kelompok bisa berakhir dengan hubungan badan.

“Sebagai wanita Islam, kita harus hadir untuk melindungi masyarakat dari transgender dan pergaulan bebas,” tandasnya.

Ketua PW Wanita Islam Jateng, Sri Handayani menambahkan, karena sampai saat ini terjadi peningkatan pernikahan dini di Jateng, maka organisasi Wanita Islam di daerah ini merasa perlu memberikan sosialisasi seluruh anggota.

“Kami mencoba ikut berkontribusi dalam menanggulangi peningkatan angka pernikahan dini,” jelasnya.(*)

Kontributor: Fajar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here