Notaris Achmad Yani Kalimuddin Dipolisikan, Diduga Pemalsuan dan Penggelapan

0
1554
Notaris Achmad YK Dipolisikan, Diduga Pemalsuan dan Penggelapan
Maya Latif menunjukkan akta notaris Achmad Yani Kalimuddin. (Ros/FB.Net)

MUNA, SULTRA — Seorang oknum notaris di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Achmad Yani Kalimuddin, dilaporkan di Polda Sultra pada Tanggal 15 Juli 2020 oleh Maya Latif dengan dugaan kuat telah melakukan pemalsuan surat berharga dan penggelapan saham sebagaimana dimaksud pada Pasal 372 KUHP dan/atau Pasal 263 Subs 264 KUHPidana jo 46 Ayat 1 jo Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1993 tentang Perbankan.

Dalam jumpa persnya dengan sejumlah awak media di Kabupaten Muna, Maya Latif mengungkapkan bahwa Notaris Yani Kalimuddin telah merubah Akta Perusahaan miliknya PT Graha Raditya Realtor tanpa sepengetahuannya dan suaminya sebagai pemegang saham terbesar.

“Saya mengetahui kalau Akta saya dirubah, pak Umar mau daftar NIB (Nomor Induk Berusaha) di PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu), saat itu disampaikan bahwa saya bukan lagi Direksi PT Graha Raditya Realtor. Saya kaget dan tak menyangka,” ungkapnya, Senin (20/07/2020) kemarin.

“Dari info itu saya hubungi lawyer saya pak Laode Kadir Ndoasa. Dari lawyer bahwa Notaris Achmad Yani Kalimuddin mengaku pada Kadir Ndoasa bahwa saya sendiri datang di kantornya untuk menyerahkan Akta perusahaan saya padanya,” tambahnya.

Menurut Maya Latif alasan yang disampaikan Notaris Achmad Yani Kalimuddin tidak masuk akal, sebab mana mungkin dirinya menyerahkan akta perusahaan tersebut pada orang lain, apalagi sampai mengubah sesuatu hal tanpa rapat direksi dan saksi masing-masing pihak.

“Yang jelas pada tahun 2016 saya tidak perna mendatangi kantor notaris Yani Kalimuddin untuk menyuruh merubah akta perusahaan saya dan memberikannya pada orang lain,” kata Maya Latif.

Namun anehnya ada surat pernyataan dan disitu dirinya bertanda tangan.

“Ini pemalsuan, penipuan dan penggelapan. Saya sangat menyayangkan sikap notaris Yani Kalimuddin melakukan hal ini. Padahal dia seorang praktisi hukum,” ucap Maya Latif bernada kesal.

Akibat perbuatan tersebut, Maya Latif mengalami kerugian ratusan miliar rupiah dan kasus tersebut sudah dilaporkan di Polda Sultra.

“Saya sudah melaporkan Notaris Achmad Yani Kalimuddin di Polda Sultra tanggal 15 Juli 2020 pekan lalu,” tuturnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Maya Latif, Kadir Nodoasa SH saat dikonfirmasi membenarkan perihal yang dialami kliennya tersebut.

Ia mengaku akan mengambil langkah-langkah hukum baik pidana maupun perdata.

“Saya sudah mendampingi klien saya melapor di Polda Sultra,” katanya.

Dijelaskannya, dalam hukum pidana telah diatur tindak pidana berupa pemalsuan suatu surat, ketentuannya dapat dijumpai dalam Pasal 263 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).

Selanjutnya, di dalam Pasal 264 KUHP ditegaskan bahwa: (1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.

Ia juga mengatakan, kasus tersebut tidak hanya ditindaklanjuti dengan melaporkan ke pihak Kepolisian, tetapi akan dibawa sampai ke Kementerian Hukum dan HAM melalui perantara majelis pengawas notaris daerah.(*)

Kontributor: Ros

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here