Kurikulum Baru Tak Wajibkan Pelajaran Sejarah, Begini Tanggapan Ketua AGSI Papua

0
665
Kurikulum Baru Tak Wajibkan Pelajaran Sejarah, Begini Tanggapan Ketua AGSI Papua
Ketua AGSI Papua, Harjuni Serang, M.Si (kiri ujung). (Abdul Mutakim/FB.Net)

SENTANI, PAPUA — Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Papua menyampaikan tanggapannya terkait rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Makariem merubah kurikulum, pada mata pelajaran Pendidikan Sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA, bahkan menghilangkannya di SMK.

Ketua AGSI Papua, Harjuni Serang, M.Si sedikit mengutip pernyataan Presiden AGSI bahwa penyederhanaan kurikulum memang masih berupa draft, oleh karenanya harus ada respon dari kita mencegah, agar draft tersebut tidak menjadi kenyataan.

“Dalam kutipan Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma mengatakan bahwa menghancurkan sebuah bangsa tidak harus melalui pertempuran fisik, melainkan hilangkan ingatan mereka akan sejarahnya,” ungkapnya pada wartawan, Sabtu (19/09/2020).

“Maka kehancuran tinggal menunggu waktunya, Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang kehilangan memorinya, ialah orang yang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan identitas atau kepribadiannya,” sambungnya.

Harjuni lanjut mengungkapkan bahwa bangsa ini juga akan turut merugi dan terlukai dikarenakan secara sadar ataupun tidak disadari akan ikut terbawa masuk ke gerbang kehancuran, dimana generasi masa kini dan masa depan terancam mengalami amnesia sejarah serta terserabut dari jatidirinya sendiri.

“Karena itu kami memilih berjuang mengambil cara-cara preventif sebelum benar adanya ‘malapetaka’ menimpa kita semua,” cetusnya.

Mata Pelajaran Sejarah, menurut Harjuni, adalah media yang paling ampuh untuk memperkuat jati diri dan karakter manusia, ia juga merupakan alat pemersatu kita sebagai sebuah bangsa.

“Yang kami inginkan adalah bagaimana mata pelajaran Sejarah tetap sebagai mata pelajaran wajib di setiap jenjang kelas,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan mata pelajaran sejarah memiliki peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itulah pihaknya meyakini bahwasanya sejarah bukan sebatas romansa atas masa lalu, melainkan ia adalah referensi bagi kehidupan manusia, cermin dari sebuah perbuatan manusia sesuai dengan masanya, dan ia adalah panduan dalam menentukan arah perjalanan bangsa.

“Sedangkan Guru Sejarah adalah ujung tombak sekaligus benteng dari peradaban. Bagaimana memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya, ditransformasikan melalui pembelajaran serta keteladanan di ruang-ruang kelas,” jelasnya.

“Olehnya itu, saya mengajak mari selamatkan generasi muda kita dari amnesia sejarah, mari kita selamatkan bangsa ini dari gerbang kehancuran. Sesungguhnya belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan, bukan merupakan pilihan,” ajak Harjuni.(*)

Kontributor: Abdul Mutakim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here