Akhir Mei, Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi di Perairan Pantai Samudera Hindia

0
249
Akhir Mei, Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi di Perairan Pantai Samudera Hindia
Gambar grafik pasang surut Benoa 1 sampai dengan 27 Mei 2020 (air tinggi 24-25 Mei 2020 saat Bulan mati/Bulan baru), tinggi air dalam Cm. (Foto: Istimewa)

JAKARTA – Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Pushidrosal) meminta masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem dan gelombang tinggi serta Rob di Pantai Samudera Hindia pada akhir Mei 2020.

Cuaca ekstrem dan gelombang tinggi ini dapat terjadi lagi di Pulau-pulau Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Namun demikian, masyarakat diharap tenang dan tetap waspada terhadap kenyataan yang timbul karena ini merupakan fenomena alam.

Hal tersebut dikeluarkan Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., SH, MH di Mako Pushidrosal, Ancol Timur, Jakarta Utara, pada hari Jumat (29/05/2020), membahas fenomena banjir di pesisir dan gelombang tinggi yang terjadi di Bali dan Lombok.

Menurut Kapushidrosal, gelombang tinggi yang menghantam pantai selatan Bali dan Lombok dan puncaknya pada Kamis, 28 Mei 2020, merupakan fenomena alam yang sumbernya dari dua kejadian berbeda yang secara sekuen terjadi dalam waktu bersamaan.

Kejadian itu yakni angin kencang akibat Topan Amphan di Samudera Hindia Timur Laut yang menimbulkan gelombang tinggi dan tinggi muka air laut di Bali dan Ampenan yang pada saat itu masuk ke periode Spring Tide dimana tunggang air besar di Benoa tercatat 1,5 m dan Lembar 1,2 m.

“Pada saat kejadian gelombang tinggi (28 Mei 2020), bertepatan dengan awal bulan atau kira-kira tanggal 1-5 kalender Hijriah. Kondisi muka laut pada periode ini dikenali dengan beda muka laut yang tinggi yang dikenal dengan Spring Tide. Tercatat beda muka laut pasang dan surut saat kejadian adalah 1,5 m di Benoa dan 1,2 m di Lembar,” kata Kapushidrosal.

Penggunaan tide gauge dengan kebutuhan pengolahan data pasang surut per jam, tidak selalu dapat merekam kejadian gelombang tinggi yang durasi periode antara 3 sampai dengan 9 detik. Alat perekam yang cocok untuk gelombang adalah wave recorder.

Pushidrosal sebagai Lembaga Hidrografi Nasional yang berkewajiban menyediakan data dan informasi hidro-oseanografi untuk menjamin keselamatan pelayaran, senantiasa menggelar survey hidro-oseanografi di seluruh perairan Indonesia.

“Pushidrosal juga melaksanakan perekaman gelombang data, namun demikian hanya pada saat pelaksanaan survei hidro-oseanografi berlangsung, tidak seperti pasang surut yang diputar dalam periode panjang” Pungkas Kapushidrosal. (*)

TIM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here